Senin, 10 November 2014

Jurnal Softskill - Teori Organisasi Umum


Jurnal 1
KEPEMIMPINAN MELALUI MOTIVASI




I.       Pendahuluan

Pengertian kepemimpinan adalah: The process of inspiring others to work hard to accomplish important task (Schermerhorn, 1996). Pengertian tersebut dapat dapat dijabarkan sebagai berikut:

Memberikan inspirasi pada orang lain untuk termotivasi/memotivasi dirinya bekerja keras agar produktif.

Mengarahkan/mempengaruhi usaha orang lain untuk pencapaian tujuan bersama melalui komunikasi efektif.


Dalam hubungannya dengan motivasi, kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap penciptaan lingkungan kelompok yang kondusif agar dapat memotivasi anggota-anggota kelompoknya. Agar dapat menginspirasi individu untuk memotivasi dirinya sendiri, seorang pemimpin perlu memahami kebutuhan dan keinginan individu tersebut. Lingkungan kondusif yang dapat memotivasi sangat penting, karena motivasi setiap individu akan berkorelasi langsung dengan produktivitas.

Pada saat menginspirasi anggota kelompoknya, seorang pemimpin sedang mengubah cara berpikir mereka, sedangkan pada saat memotivasi, pemimpin sedang mengubah cara bertindak.

INSPIRATION is changing THINKING, MOTIVATION is changing ACTION.
















1


II.      Kepemimpinan

2. 1. Pemimpin yang Baik

Beberapa dekade yang lalu kekuasaan dan posisi sangat berpengaruh terhadap seorang pemimpin. Namun, dewasa ini seorang pemimpin tidak dapat menuntut bawahan untuk menghormati dan menghargai mereka. Penghormatan dan penghargaan tersebut harus diperoleh.

Kepemimpinan saat ini, lebih dari kapan pun, merupakan proses dua arah antara pemimpin dan yang dipimpin. Pada akhirnya, tanpa bawahan yang mempunyai kemauan, pemimpin tidak dapat memimpin.

Kepemimpinan sangat mempengaruhi produktivitas sebuah organisasi. Kepemimpinan yang buruk akan mengakibatkan:

1.    Kelompok tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. Waktu dan sumber daya dapat terbuang percuma, dan pekerjaan pun tidak dilaksanakan dengan sempurna.

2.    Kelompok tidak termotivasi. Memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan suatu tugas, atau bahkan tidak dapat menyelessaikannya ssama sekali.

3.    Individu tidak bekerja sebagai tim dan tidak tidak berinteraksi sebagai suatu kelompok.

4.    Kemungkinan kelompok akan berusaha minimal untuk menyelesaikan suatu tugas, dan tidak dapat bertahan jika bekerja dalam tekanan.

5.    Turn over anggota kelompok akan lebih sering karena mereka tidak mau bertahan dalam lingkungan tersebut.

6.    Individu tidak akan mengembangkan keahlian yang diperlukan. Oleh karena itu, kelompok ini tidak akan dapat menghadapi situasi baru.

Sebaliknya, kepemimpinan yang baik akan dapat mengakibaatkan:

1.    Kelompok bekerja sebagai tim, tidak sebagai individu di dalam kelompok. Mereka bekerja untuk tujuan kelompok.



2





2.    Tim dapat memahami tujuan-tujuan kelompok dan bagaimana mereka dapat menyesuaikan tujuan kelompok tersebut dengan tujuan-tujuan organisasi.

3.    Anggota tim saling mendukung satu sama lain

4.    Tim bersedia memberikan usaha lebih saat dibutuhkan.

5.    Tim menetapkan target pekerjaan yang sempurna, tidak hanya ‘melakukan pekerjaan’

6.    Setiap individu tahu apa yang harus dikerjakan oleh tim, dan peran masing-masing individu dalam melakukan pekerjaan tersebut.

7.    Anggota tim bermotivasi untuk melakukan tugas seefektif mungkin.

8.    Tugas spesifik di dalam pekerjaan keseluruhan ditugaskan kepada anggota tim yang paling berkemampuan.

Manajer menjadi seorang pemimpin saat kepribadian dan karakter, pengetahuan dan fungsi keahlian untuk pemimpin diakui dan diterima oleh individu-individu yang berhubungan.

Kepemimpinan dapat diperoleh dari sebuah situasi spesifik dan otoritasnya dapat diperoleh dari posisi (jabatan), kepribadian (kualitas dasar dan pengaruh), serta pengetahuan (keahlian teknis).

Agar dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, terdapat beberapa kualitas yang harus dimiliki, yaitu:

1.    Enthusiasm

2.    Integrity, baik pribadi keseluruhan dan konsisten pada nilai diluar diri sendiri, terutama kebaikan & kejujuran. Kualitas ini menimbulkan kepercayaan kepada pemimpin.

3.    Toughness, Demanding, with high standards, resilient, tenacious and with the aim of being respected ( not necessarily popular )







3





4.    Fairness, memberi reward dan penalty terhadap performa kerja tanpa ada favorite’, memperlakukan individu berbeda tapi seimbang.

5.    Warmth, hati dan pikiran terikat, menyayangi orang lain, serta kepedulian terhadap orang lain.

6.    Humility, kebalikan dari angkuh, menjadi pendengar yang baik dan tanpa ego yang berlebihan.

7.    Confidence, tidak percaya diri berlebihan (yang biasanya dapat menuju pada arogansi), tapi tetap memiliki kepercayaan diri.



2.2. SUPERVISING dan Managing

Kata supervisor berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘super’ = berlebih dan ‘visor’ = untuk melihat. Maka, ‘supervisor’ = orang yang melihat.

Tugas supervisor adalah melihat satu atau lebih hal dari sebuah daftar, lalu memeriksa dan mengawasi hal tersebut.

Seorang manager memiliki gambaran yang lebih luas. Tidak hanya mereka memeriksa dan mengawasi hal yang dikerjakan sekarang,tapi biasanya mereka juga bertugas untuk membuat prediksi, merencanakan ke depan, dan memutuskan bagaimana hal-hal akan diubah dan dikembangkan.

Perbedaan antara supervisor dan manager adalah sudut pandang mereka.

Supervisor biasanya lebih memperhatikan masa kini, sedangkan manager memperhatikan masa depan, masa kini, dan masa lalu.



2. 3. Perbedaan antara Mindset Aktif dan Mindset Reaktif

Mindset aktif memiliki tiga ciri: Faster, Harder, dan Smarter. Faster maksudnya meningkatkan kecepatan atas pekerjaan Anda untuk mengejar, bertahan, dan berjalan; Harder yaitu meningkatkan intensitas usaha Anda dalam rangka mengendalikan, memperbaiki dan mendominasi; sedangkan




4





Smarter artinya meningkatkan know – how Anda untuk mengecoh, mengakali, atau menyiasati suatu kemenangan

Mindset pasif, memiliki tiga ciri pula, yaitu Richer, meningkatkan level kesadaran Anda untuk mengeluarkan potensi tersembunyi dalam situasi anda; Deeper, memperluas dalamnya penghargaan Anda terhadap hubungan manusia untuk mempercepat kemajuan dan sinergi; dan Wiser, memperluas pengertian Anda tentang bagaimana dan mengapa dunia dapat menciptakan kemungkinan baru..



2. 4. Kepemimpinan Visioner

Visi adalah adanya perasaan/sense yang jelas terhadap masa yang akan datang. Visi merupakan salah satu aspek yang penting dari kepemimpinan yang efektif

Lima prinsip Kepemimpinan Visioner adalah :

- Meragukan proses yang ada à be innovative

- Adanya antusiasme

- Membantu orang lain untuk bertindak

- Memberikan contoh

- Merayakan pencapaian prestasi




2.  5. Kepemimpinan dan Power

Power adalah kemampuan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu hal yang kita inginkan atau untuk membuat sesuatu hal terjadi sesuai dengan cara yang kita inginkan.Bukan untuk kepentingan diri namun untuk kepentingan organisasi secara menyeluruh

Terdapat 2 sumber dari Power (power base), yaitu:





5





       Power of the Position - Berdasar pada hal yang dapat diberikan seorang pemimpin pada orang lain

       Power of the Person - Berdasar pada bagaimana seorang pemimpin memiliki kualitas individual dan dipandang oleh orang lain



2. 5. 1. Position Power

Sumber dari position power adalah status/posisi manajerial seseorang dalam

organisasi.

       Reward Power – Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui pemberian reward – contoh pemberian bonus, promosi, pujian, dsb.

       Coercive Power – Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui pemberian hukuman atau menunda pemberian hasil yang bersifat positif

– contoh pemberian penalti, PHK, dsb.

       Legitimate Power – Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain karena adanya otoritas dari tempat kerjanya

Sumber power ini adalah kualitas personal yang dibawa oleh  seseorang

dalam memimpin suatu unit kerja




2. 5. 3. Personal Power

     Expert  Power  –  Kemampuan    mempengaruhi  orang  lain  karena

pengetahuan/ilmu spesifik yang dimiliki seseorang

       Referent Power – Kemampuan mempengaruhi orang lain karena ia membuat orang lain mengidentifikasi secara personal dengan sumber power ini. Muncul karena adany karisma ataupun personal attractiveness sehingga orang lain respek dan mengagumi dirinya

       Informational Power - kemampuan mempengaruhi orang lain karena memiliki informasi yang tepat dan banyak/luas



6





       Connection Power - kemampuan mempengaruhi orang lain karena memiliki koneksitas/hubungan yang dekat



2. 5. 3. Mendapatkan Pengaruh Positif

Agar  seorang  pemimpin  mendapatkan pengaruh positif,  ia harus dapat

melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.    Mengembangkan sumber power, membangun position power dan personal power

2.    Menggunakan strategi pengaruh, menggunakan strategi-strategi yang dapat mempengaruhi orang lain

3.    Memberdayakan orang lain, proses dimana manajer memberikan dan membantu individu lainnya untuk mendapatkan power dan memiliki pengaruh dalam organisasi

Yang dimaksud dengan pemberdayaan di atas dapat juga berarti memberikan power – kemampuan pada orang lain untuk bertindak ataupun membuat keputusan yang relevan atas pekerjaan mereka

Pada lingkungan kerja yang selalu berubah, pemberdayaan merupakan skill yang penting dikuasai oleh seorang manajer.



2. 6. Pendekatan Kepemimpinan

Terdapat dua pendekatan Kepemimpinan bagi lower level manager, yaitu:

1.    Pendekatan Traits

Trait adalah personal karakteristik individu yang relatif stabil dan menetap Dasar personal yang dianggap penting bagi efektivitas kepemimpinan adalah : drive, motivation, honesty and integrity, self-confidence, intelligence, knowledge dan flexibility






7

2.  Pendekatan Behavior




2. 7. Pemimpin yang Efektif

Berikut adalah beberapa ciri pemimpin yang efektif:

       Memiliki visi yang menarik

       Menentukan sasaran yang jelas (specific, measurable, attainable, realistic, time-oriented-smart)

       Dapat mengembangkan karyawan yang terlatih dan berpengalaman

       Selalu memberikan umpan balik

       Melibatkan karyawan dalam memecahkan masalah

       Mengembangkan iklim kerja yang mendorong kepercayaan, keterbukaan dan kebersamaan dalam bekerja

Kepemimpinan yang efektif juga dapat dicapai melalui pendelegasian kepada bawahan. Melalui pendelegasian, pemimpin akan menghemat waktu, membangun kebanggaan dan harga diri pada bawahannya karena diikutsertakan dalam penentuan hasil usahanya, dapat mengembangkan bakat, inovasi, dan kreativitas, serta mendorong timmbulnya motivasi berprestasi.



2. 8. Pemimpin dan Komunikasi

Communication is the interpersonal process of sending and receiving symbols with message attached to them

Komunikasi merupakan keterampilan penting bagi seorang manajer dan merupakan dasar yang utama bagi kepemimpinan yang efektif. Melalui komunikasi seorang manajer berbagi dan bertukar informasi, mempengaruhi, mengontrol dan menginspirasi orang lain




8





Manajer  berperan  penting  dalam membangun  komunikasi.  Peran-peran

tersebut adalah:

       Monitor Role : Mendapatkan informasi yang tepat dari dalam dan luar organisasi

       Disseminator Role : Mendistribusikan informasi dalam unit kerjanya

       Spokeperson Role : Mendistribusikan informasi keluar unit kerjanya

       Decision-Maker Role : Memanfaatkan informasi untuk menyelesaikan masalah atau untuk mencari kesempatan

Komunikasi juga dilakukan untuk proses pemberian feedback dari manajer kepada bawahan. Feedback is the process of telling someone else how you feel about something that person did or said

Manajer harus memastikan bahwa feedback yang diberikan dapat dipahami, dapat diterima, dan masuk akal.



III.  Memimpin Melalui Motivasi

Manajer yang leads through motivation akan mengembangkan suatu kondisi kerja dan melakukan kepemimpinan yang menggugah seseorang untuk bekerja lebih keras

To motivate means to encourage and inspire

Motivasi adalah dorongan dalam diri yang berhubungan dengan tingkat, arah dan persistensi –konsistensi usaha yang dilakukan seseorang dalam bekerja.



3. 1. Pengertian Motivasi

Beberapa pengertian yang dikaitkan dengan motivasi :

Motivasi adalah keinginan (desires, wants),tujuan (aims, goals), kebutuhan (needs), dorongan (drives), motif, sikap, insentif.



9





Motivasi adalah dorongan dalam diri yang berhubungan dengan tingkat, arah dan persistensi –konsistensi usaha yang dilakukan seseorang dalam bekerja.

Motivasi internal adalah dorongan (drives) dan perilaku (attitude). Kita semua termotivasi, baik positif maupun negatif.

Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin: movere yang berarti to move.

Pengertian motivasi terdiri dari 3 komponen:

Pemberian daya pada perilaku (energizing) Pemberi arah pada perilaku (directing)
Mempertahankan perilaku (sustaining)


3.    2. Motif Sosial

Menurut David McCelland semua orang dewasa berpotensi bertingkah lalu secara beraneka ragam tergantung kepada :

kekuatan atau kesiapan dari berbagai motif pada dirinya karakteristik situasi dan kesempatan

Terdapat tiga motif sosial, yaitu:

Motif Prestasi

Motif Persahabatan Motif Kekuasaan

Karakteristik situasi akan menentukan motif mana yang akan terangsang dan macam tingkah laku yang timbul. Setiap orang memiliki ketiga motif sosial, tapi dengan kadar motif yang berlainan. Orang dengan Motif Prestasi, Motif Sahabat dan Motif Kuasa yang tinggi, tingkah lakunya dapat diramalkan, makin kuat motif itu, makin jelas corak tingkah laku yang tampak.

Orang dengan Motif Prestasi yang tinggi, akan:

Melakukan sesuatu lebih baik daripada orang lain

Mencapai atau melebihi ‘ukuran keberhasilan’ yang ditetapkan sendiri




10

Mencapai suatu hasil yang luar biasa dan khas Bertanggungjawab atas semua tindakannya
Mencari umpan balik (feedback) tentang hasil tindakannya

Mengambil risiko yang moderat(menantang tetapi dapat dicapai secara nyata)

Berusaha melakukan sesuatu dengan cara kreatif dan inovatif

Mengingatkan diri atau melibatkan diri pada karir di masa yang akan datang.

Orang dengan Motif Persahabatan yang tinggi :

Lebih memperhatikan apakah ia disukai dan diterima oleh orang lain yang diikuti dengan adanya persahabatan

Lebih suka berhubungan dan bersama orang lain daripada sendirian, termasuk bercakap-cakap lewat telepon, berkunjung.

Cemas terhadap putusnya hubungan pribadi yang baik

Lebih memperhatikan segi hubungan antar pribadi daripada segi hubungan tugas dalam pekerjaan

Mencari persetujuan atau kesepakatan dari orang lain, cemas terhadap putusnya hubungan pribadi yang baik
Bekerja lebih efektif dalam hubungan kerjasama yang kooperatif.

Orang dengan Motif Kekuasaan yang tinggi :

Melakukan perbuatan yang menunjukkan kekuasaannya

Melakukan sesuatu yang mengakibatkan timbulnya perasaan sangat positif(senang) atau sangat negatif pada orang lain

Sangat aktif dalam menentukan arah kegiatan organisasi tempat ia berada

Peka dan memperhatikan struktur pengaruh antar pribadi, kelompok dan organisasi

Mengumpulkan benda/barang mewah atau menjadi anggota perkumpulan yang mencerminkan prestise

Cemas akan nama baiknya/kedudukannya

Berusaha menolong orang lain walaupun tidak diminta




11

Karyawan yang termotivasi berada di jalur menuju produktivitas tinggi. Ciri-

ciri karyawan yang termotivasi tinggi adalah:

Karyawan tersebut mampu memotivasi diri sendiri, berinisiatif, dan memacu diri untuk memulai sesuatu serta mempunyai komitmen tinggi (OCB : Organizational Citizenship Behavior).

Tekun, bekerja produktif menuntaskan tugas sampai berhasil walaupun mendapat rintangan.

Mempunyai kemauan keras untuk bekerja-selalu sibuk Bekerja efektif tanpa pengawasan
Melihat hal-hal yang harus dikerjakan dan mengambil tindakan yang perlu

Menyukai tantangan-ingin menguji kemampuannya-menyukai pencarian pemecahan masalah.

Selalu ingin bertanya-menunjukkan keingintahuan

Memperlihatkan ketidakpuasan konstruktif selalu memikirkan perbaikan sesuatu

Berorientasi pada sasaran atau pencapaian hasil Selalu tepat waktu dan ingin menepati waktu

Tingkat energi tinggi, dapat mengarahkan dan mempertahankan energi dengan efektif

Merasa puas jika sudah melakukan pekerjaan dengan baik

Menghargai imbalan yang pantas untuk hasil kerja yang berprestasi Memberikan andil pada penyelesaian pekerjaan yang melebihi dari

yang diharapkan

Memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya (bangga, punya kebiasaan kerja yang baik, cermat, konsisten) dan terhadap lingkungan kerjanya (menghormati manajemen, mempunyai hubungan baik dengan manajemen, kolega, dan bawahan)
Percaya diri dan luwes dalam menyesuaikan diri dengan perubahan.

Terdapat  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi  pengembangan  motif

prestasi, antara lain:






12





Faktor individu : penilaian tentang kemampuan/potensi diri, konsep diri, kematangan pribadi (internal rewards)

Faktor  Lingkungan  :  dukungan  dan  umpan  balik  positif  berupa

‘hadiah’ dalam bentuk pujian , penghargaan, promosi (external rewards) setiap kali individu berhasil mencapai prestasi unggul.

Pada saat memotivasi diri sendiri, faktor yang memotivasi Recognition & Responsibility. Motivator yang paling besar pada diri adalah Belief yaitu, keyakinan bahwa diri bertanggungjawab pada tindakan dan perilaku sendiri. Ketika orang menerima tanggung jawab, semua menjadi lebih baik :kualitas, produktivitas, relationship dan kerjasama

Untuk memotivasi orang lain, kita dapat memberi penghargaan, menghargai, menciptkan pekerjaan yang lebih menarik, menjadi pendengar yang baik, member tantangan, serta menolong tapi tidak melakukan sesuatu bagi orang lain yang sebenarnya dapat dilakukan oleh dirinya sendiri.

Salah satu hal yang dapat dilakukan manajer untuk memotivasi bawahannya adalah dengan memberikan reward. Agar pengaruh reward dapat digunakan secara maksimal, manajer perlu :

       Menghormati keberagaman dan perbedaan individu

       Secara jelas memahami apa yang orang lain inginkan dari suatu pekerjaan

       Mengalokasikan rewards untuk memuaskan kebutuhan individu dan organisasi

IV. PENUTUP

Setelah memahami benar hakikat kepemimpinan, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan tidak mungkin berlangsung tanpa ada upaya memotivasi bawahan/orang lain. Dalam artian pihak lain/bawahan dapat patuh mengikuti apa kata sang pemimpin, hanya jika sang pemimpin mampu mendorong atau memotivasi mereka sehingga mereka (bawahan/rekan) dapat terdorong untuk melakukan suatu tindakan yang terarah pada tujuan bersama. Mengingat para




13





bawahan atau rekan kerja yang dimotivasi memiliki beragam kepribadian dengan beragam motivasi, maka rangkaian kata berikut ini layak disimak dalam rangka menjadi pemimpin yang mampu memotivasi bawahan untuk mencapai tujuan unit kerja dan organisasi.

To be a Good Leader you need to use your HEAD , demonstrate HEART, Act with GUTS.

Seiring dengan perusahaan tempat materi ini dibahas, yang bergerak di bidang perminyakan, maka motivation is like fire-unless you keep adding fuel to it, it dies.

Kesimpulan
Seorang pemimpin harus bisa memotivasi bawahannya agar bekerja untuk lebih produktif. dan menjalin komunikasi dengan 2 arah dengan baik untuk tercapainya tujuan bersama.
kepemimpinan yang baik sangat penting bagi kelangsungan bersama suatu organisasi. bila kepemimpinannya kurang baik, maka akan mempengaruhi kinerja bawahannya sehingga dapat menghambat kemajuan organisasi tersebut. dan kemungkinan kelompok akan berusaha kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya.
beberapa kualitas yang harus dimiliki jika ingin menjadi pemimpin yang baik adalah sebagai berikut :
1. antusias
2. Integritas
3. Loyalitas.
4. Adil
5. Menyayangi bawahannya
6. Tidak memiliki ego berlebihan
7. Percaya diri

Ada 2 tipe mindset dari seorang pemimpin. yaitu, mindset aktif dan mindset reaktif. mindset aktif mempunyai ciri-ciri : faster, harder, dan smarter. dan mindset reaktif ciri-cirinya adalah : richer, deeper, wiser.
dalam menjalankan kepemimpinan, ada beberapa tipe. yang pertama adalah kepemimpinan visioner.
jadi, motivasi dalam kepemimpinan perlu diterapkan agar para bawahan semakin termotivasi untuk menjadi lebih produktif dan menjaga hubungan harmonis agar tujuan dari suatu organisasi bisa tercapai.






Daftar Pustaka
Disajikan pada Kursus Arus Minyak Korporat Tahap Ketiga Angkatan II Tahun 2008, Marina Sulastiana






 Jurnal II


 BAB I
LATAR BELAKANG MASALAH

Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai.

Keteraturan hidup perlu selalu dijaga, Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik.

Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik. Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.

Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.

BAB II
PERUMUSAN MASALAH

1.    Apakah Kepemimpinan itu ?

2.    Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin ?

3.    Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan ?



BAB III
PEMBAHASAN


2.1        Apakah Kepemimpinan itu ?

Menurut sejarah, “kepemimpinan” muncul pada abad 18 dan ada beberapa pengertian darikepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang, baik individu maupun masyarakat.

Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
1.    Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
2.    Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
3.    Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46)
4.    Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya. 
5.    Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).

Dari pengertian-pengertian di atas Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu Mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang memimpinnya.

Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin, Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin juga seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Meskipun banyak di antara pemimpin yang ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani.

Kepemimpinan juga sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.


Sebuah jenis kepemimpinan yaitu Q Leader memiliki 4 makna terkait dengan kepemimpinan sejati, yaitu :
1.    Q Leader pertama berarti kecerdasan atau intelligence. Seperti dalam IQ berarti kecerdasan intelektual,EQ berarti kecerdasan emosional, dan SQ berarti kecerdasan spiritual. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ,EQ,SQ yang cukup tinggi.
2.    Q Leader kedua berarti kepemimpinan yang memiliki kualitas(quality), baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
3.         Q Leader ketiga berarti seorang pemimpin yang memiliki qi ( dibaca ‘chi’ dalam bahasa Mandarin yang berarti kehidupan).
4.    Q Leader keempat berarti qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).

Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence-quality-qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.

2.2        Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin ?

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan, Paling tidak untuk memimpin diri sendiri. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal, Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati.


Seperti contoh Nelson Mandela, Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka. Dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya.

Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.

Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

A.   Karakter Kepemimpinan

Kepemimpianan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali kita saksikan betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam pemilu tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya.

Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelomponya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.

Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan,pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada public atau kepada setiap anggota organisasinya.

B.   Metode Kepemimpinan

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.

Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah – sekolah formal. Keterampilan seperti ini disebut dengan Softskill atau Personalskill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan.

Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang – orang atau organisasi yang dipimpin menuju suatu tujuan yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bias bertahan sampai beberapa generasi. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tsb ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsive. Artinya dia selalu tanggap tehadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemempuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dsb), melakukan kegiatan sehari – hari seperti monitoring dan pengendalian, serta mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.



C.   Perilaku Kepemimpinan

Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin.

Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.

Pemimpin focus pada hal – hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek , baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dsb. Setiap harinya senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).

2.3       Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan kepemimpinan ?

Kearifan local yaitu spirit local genius yang disepadankan maknanya dengan pengetahuan, kecerdikan,kepandaian, keberilmuan, dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan dan berkenaan dengan penyelesaian masalah yang relative pelik dan rumit. Dalam suatu local (daerah) tentunya selalu diharapkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang (harmonis). Kehidupan yang penuh kedamaian dan suka cita. Kehidupan yang dipimpin oleh pimpinan yang dihormati bawahannya. Kehidupan yang teratur dan terarah yang dipimpin oleh pimpinan yang mampu menciptakan suasana kondusif.

Kehidupan manusia tidak lepas dari masalah, serangkaian masalah tidaklah boleh didiamkan. Setiap masalah yang muncul haruslah diselesaikan. Dengan memiliki jiwa kepemimpinan, seseorang akan mampu menaggulangi setiap masalah yang muncul.
Manusia di besarkan masalah. Dalam kehidupan local masyarakat, setiap masalah yang muncul dapat ditanggulangi dengan kearifan local masyarakat setempat. Contohnya adalah masalah banjir yang di alami masyarakat di berbagai tempat. Khususnya di Bali, seringkali terjadi banjir di wilayah Kuta. Sebagai tempat tujuan wisata dunia tentu hal ini sangat tidak menguntungkan. Masalah ini haruslah segera ditangani. Dalam hal pembuatan drainase dan infrastruktur lainnya, diperlukan kematangan rencana agar pembangunan yang dilaksanakan tidak berdampak buruk. Terbukti, penanggulangan yang cepat dengan membuat gorong – gorong bisa menurunkan debit air yang meluber ke jalan.

Sebagai pemimpin lokal, pihak Camat Kuta, I Gede Wijaya sebelumnya telah melakukan sosialisasi terkait pembangunan gorong – gorong. Camat Kuta secara langsung dan tertulis telah menyampaikan hal tersebut kepada pengusaha serta pemilik bangunan dalam surat No. 620/676/ke/07 , tertanggal 27 desember 2007














BAB IV
Kesimpulan

Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan. jadi, kepemiminan adalah tindakan mempengaruhi prilaku orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
4 makna mengenai kepemimpinan sejati adalah :
1. kecerdasan atau intelligence
2. kepmimpinan yang memiliki kualitas
3. memiliki kharisma
4. mengenali dirinya sendiri

pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar.
artinya seorang pemimpin dengan sukarela mau mendengarkan unek - unek dari para bawahannya sehingga terjalinin kedeketan emosional dalam suatu organisasi.
           
Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.
           
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.


Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.




DAFTAR PUSTAKA
                 James K. Van Fleet, 1973, 22 Manajemen Kepemimpinan, Jakarta:Mitra Usaha

                 Purwanto, Yadi, 2001, makalah: Manajemen PT. Cendekia Informatika, Jakarta

                 http://artikelrande.blogspot.com/2010/07/manajemen-kepemimpinan_6811.html

                 W. Brown steven, 1998, Manajemen Kepemipinan, Jakarta: Profesional Books




Jurnal III



Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008

Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi (Organizational Change) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi

Irawaty A. Kahar

Program Studi Ilmu Perpustakaan
Universitas Sumatera Utara


Abstract

Success in the organizational change is determined by leadeship, because leadership with leader is who implementing and planning change. This paper is aimed at obtaining information to related the effect of leadeship with many aspeks on organizational change. Based on those teories reveals that some aspecs of leadersip with (1) visionary leader, (2) comunicator leader,

(3) leader as change agent, (4) (leader as coach) and leader as Technology information analysis,could be enhanced and improved organizational change. Therefore this aspecs can be used for achieved organizational change special at University libraries.


Keywords: Leadersip, Organizational Change

1. Pendahuluan

Era globalisasi telah mengubah dunia menjadi seakan tanpa batas, perkembangan ilmu pengetahuan kian pesat dan pada waktu yang sama di tempat yang berbeda informasi dapat diperoleh dengan mudah. Sebagai konsekuensi logis terjadilah ledakan informasi yang tentunya memerlukan suatu teknologi yaitu teknologi informasi untuk dapat mengakses dan menyebarluaskan informasi tersebut dengan cepat.

Pesatnya kemajuan teknologi informasi dewasa ini berdampak cukup luas terhadap semua lini kehidupan, termasuk kehidupan organisasi salah satunya adalah organisasi perpustakaan perguruan tinggi. Ditambah lagi dengan kehidupan masyarakat global yang penuh tantangan menuntut organisasi perpustakaan perguruan tinggi dengan segenap potensi dan misi mampu menempatkan diri dalam konteks lingkungan strategis yang selalu berubah.

Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat dokumentasi dan informasi serta sumber literatur mendukung Tridharma Perguruan Tinggi dalam pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Perpustakaan adalah yang pertama merasakan dampak dari ledakan informasi, karena untuk menyimpan, mengelola dan menyebarluaskan




informasi tersebut menjadi tanggungjawab perpustakaan.. Kehadiran Teknologi Infor-masi telah merubah wahana penyampaian informasi di perpustakaan dari berbasiskan kertas dan cetak menjadi multi media, di samping itu sistem pelayananpun berubah dari manual ke otomasi

Sehubungan dengan itu sudah saatnya suatu perubahan pada organisasi perpustakaan dioptimalkan yang secara spesifik berupa perubahan teknologi dalam bentuk otomasi perpustakaan. Perubahan pada organisasi perpustakaan perguruan tinggi merupakan sebuah ekspektasi dalam era globalisasi ini dan hendaklah dapat dimanifestasikan dalam bentuk aplikasi Teknologi Informasi.

Perubahan organisasi bisa berupa perubahan teknologi, struktur, individu dan fisik yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan serta budaya baru. Dalam melakukan perubahan terhadap organisassi banyak faktor yang menghambat perubahan tersebut termasuk budaya organisasi yang menolak akan perubahan serta kepemimpinan yang lemah. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Daff (1988: 659) bahwa kepemimpinan dapat mendorong serta mendukung kreatifitas untuk membantu pengikut dan organisasi agar lebih menerima serta siap berubah. Selanjutnya penelitian Bishop (2001: 2020-227) menyatakan bahwa


Halaman 21

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008



pimpinan pada tingkat puncak memfasilitasi kemampuan untuk perubahan dalam tingkatan mendukung serta mengembangkan kemampuan untuk perubahan. Hasil penelitian tersebut menyiratkan bahwa semakin kuat kepemimpinan seseorang dalam melakukan tindakan untuk perubahan organisasi maka akan semakin tinggi tingkat tercapainya perubahan organisasi, sebaliknya semakin lemah kepemimpinan seseorang dalam mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk melakukan perubahan, maka semakin rendah pula tingkat tercapainya perubahan.

Pengaruh dan tanggung jawab kepemimpinan seperti yang disebutkan di atas sudah barang tentu menuntut pengetahuan, keterampilan, profesional, dan latar belakang pendidikan tinggi. Khusus untuk kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi, yang akan mengimplementasikan Teknologi Informasi sebagai suatu perubahan, pendidikan mereka seharusnya S2 ilmu perpustakaan dan minimal sarjana perpustakaan, karena semasa pendidikan, mereka cukup dibekali dengan ilmu dan keterampilan aplikasi teknologi informasi untuk perpustakaan. Namun pada kenyataan sebagian besar jabatan pimpinan perpustakaan perguruan tinggi khususnya di Sumatera Utara lebih mengacu pada kepangkatan tanpa latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Hal tersebut terungkap melalui pengumpulan data (survei penulis tahun 2006 terhadap 21 perpustakaan perguruan tinggi di Sumatera Utara) pimpinan perpustakaan yang berlatar belakang pendidikan S2 sebanyak 4,76%, S1 19,05%, Diploma3 4,76%, dan 71,43% dengan latar belakang non sarjana ilmu perpustaan. Kondisi ini yang mungkin meyebabkan sebagian kepemimpinan perpustakaan belum mampu membawa organisasinya pada perubahan dengan konsep pemanfaatan teknologi informasi.

Dalam konteks ini timbul pertanyaan konsep kepemimpinan yang bagaimana yang cocok dan dapat membawa organisasi pada perubahan? Sehubungan dengan permasa-lahan tersebut penulis berupaya memberikan solusi yang berlandaskan pada teori dan konsep kepemimpinan yang dapat membawa organisasi pada perubahan. khususnya dalam implementasi teknologi informasi pada



perpustakaan perguruan tinggi yang akan dibahas berikut ini.

2. Pembahasan

Perubahan Organisasi (Organizational Change)

Untuk memahami perubahan organisasi secara teoretis, penulis mengumpulkan beberapa definisi dan konsep para ilmuan. Michel Beer (2000: 452) menyatakan berubah itu adalah memilih tindakan yang berbeda dari se belumnya, perbedaan itulah yang menghasilkan sustu perubahan. Jika pilihan hasilnya sama dengan yang sebelumnya berarti akan memperkuat status quo yang ada. Selanjutnya Winardi (2005: 2) menyatakan, bahwa perubahan organisasi adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang di inginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Sejalan dengan itu Anne Maria (1998: 209) berpendapat, bahwa perubahan organisasi adalah suatu tindakan menyusun kembali komponen-komponen organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas organisasi. Mengingat begitu pentingnya perubahan dalam lingkungan yang bergerak cepat sudah saatnya organisasi tidak menunda perubahan, penundaan berarti akan menghadapkan organisasi pada proses kemunduran.


Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang lebih baik, sehingga perlu diupayakan agar perubahan tersebut diarahkan kearah yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang sebelumnya.

Pendapat yang senada dikemukakan oleh JO. Bryson (1990: 374) seorang pakar dalam manajemen perpustakan menyatakan bahwa

”when one or more elements in alibrary change it is called organizational change

Pendapat Bryson tersebut menunjukkan bahwa salah satu unsur saja dalam organisasi yang berubah, sudah dapat dikatakan sebagai perubahan organisasi.

Dari beberapa definisi tentang perubahan di atas dapat ditarik pengertian bahwa perubahan organisasi itu merupakan suatu tindakan yang dilakukan terhadap unsur-unsur dalam suatu organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi menuju ke arah yang lebih baik


Halaman 22


Pada dasawarsa akhir ini, kepemimpinan lebih populer dengan kepemimpinan perubahan.
Halaman 23
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008

daripada
sebelumnya. Perubahan
merupakan
Kepemimpinan



bagian dari kehidupan manusia, dan dapat
a. Pengertian Pemimpin



juga   terjadi   pada   organisasi   termasuk



organisasi perpustakaan.





Kepemimpinan merupakan salah satu unsur













Perpustakaan sebagai organisasi nirlaba tidak
penentu keberhasilan organisasi, terlebih lagi

dapat  terhindar  dari  perubahan,  kehadiran
dalam menuju perubahan. Untuk memahami

perkembangan

teknologi

informasi
apa  yang  dimaksud  dengan  kepemimpinan

merupakan dorongan eksternal yang utama
(leadership)  ada  baiknya  terlebih  dahulu

akan  merubah  unsur-unsur  dari  organisasi
mengetahui arti pemimpin (leader). Hal ini

perpustakaan. Setiap
organisasi
mempunyai
disebabkan  kepemimpinan
dilakukan  oleh

target perubahan yang berbeda sesuai dengan
seorang pemimpin dan ia mengemban tugas

kebutuhan   dan   faktor   dominan   yang
dengan
beraktivitas  untuk
melaksanakan

mendorong perubahan tersebut, begitu juga
kepemimpinan tersebut.



perubahan
pada
perpustakaan
perguruan
Menurut Robbert D Stuart (2002: 352) bahwa

tinggi termasuk perubahan yang direncanakan

yang  diakibatkan  oleh  dorongan  teknologi
pemimpin adalah seorang yang diharapkan

informasi.









mempunyai  kemampuan  untuk  mempe-












ngaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu

Sehubungan dengan itu Bryson (1990: 374-
menentukan individu untuk mencapai tujuan

375)  menjelaskan  bahwa  perubahan  yang
organisasi.  Seiring  dengan  itu  James  P.

mendasar
pada
organisasi
perpustakaan
Spillane  (2006:  10)  menyatakan  bahwa

adalah:










pemimpin  itu  agen  perubahan  dengan

1.  Perubahan   teknologi   yang   meliputi
kegiatan  mempengaruhi  orang-orang  lebih

otomasi perpustakaan pada bidang: proses
daripada  pengaruh  orang-orang  tersebut

pengatalogan,
pelayanan
pemakai  dan
kepadanya




sistem pengadaan bahan pustaka, Sistem
b. Konsep Kepemimpinan



penelusuran informasi seperti CD-ROM



dan OPACs, internet.





Beragam definisi dan konsep kepemimpinan

2.  Perubahan  struktur,  sebagai  hasil  dari

komputerisasi
yang
meliputi
spesialisasi
yang  ditemukan  dalam  berbagai  bahan

kerja, wewenang, departementalisasi dan
pustaka, yang masing-masing berbeda dalam

rentang kendali.






penekanan arti. Richard L. Daf (2005: 5)

3.  seting
pisik,
meliputi
letak
tata ruang,
mendefinisikan  kepemimpinan  (leadership)

desain
interior,
fasilitas

penempatan
adalah  suatu  pengaruh  yang  berhubungan

peralatan sesuai dengan kebutuhan kerja.
antara
para
pemimpin
dan
pengikut












(followers).  Kemudian  Gibson  menyatakan

Pernyataan Bryson tersebut lebih memperjelas
bahwa  kepemimpinan  adalah  suatu  upaya

bahwa
perubahan  organisasi
perpustakaan
menggunakan
pengaruh  untuk
memotivasi

yang  utama  adalah  pemanfaatan  teknologi
orang-orang guna pencapaian suatu tujuan.

informasi yang secara otomatis akan merubah
Masih berhubungan dengan pengaruh, Ken

struktur
dan
penataan
pisik
dan
individu
Blanchard  yang  dikutip  oleh  Marcelene

(people) di perpustakaan.





caroselli (2000: 9) menyatakan bahwa kunci












untuk   kepemimpinan   hari   ini   adalah

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa
“pengaruh” bukan “kekuasaan” selanjutnya ia

untuk melaksanakan perubahan organisasi di
mengatakan para pemimpin tahu bagaimana

perpustakaan
perguruan
tinggi
tidaklah
mempengaruhi  orang-orang  dan  membujuk

mudah,
kepemimpinan

merupakan
faktor
mereka untuk suatu tuntutan pekerjaan yang

kunci  dalam  menentukan  suksesnya  suatu
tinggi.





organisasi menuju perubahan. Berikut ini akan
c. Konsep Kepememimpinan Perubahan

dibahas

lebih
luas

tentang
konsep

kepemimpinan perubahan yang berlandaskan
pada teori.

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008



Richard L. Daff mengemukakan konsep kepepemimpinan dalam satu definisi saja yaitu “kepemimpinan adalah merupakan suatu pengaruh hubungan antara pimpinan dan pengikut (followers) yang bermaksud pada perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan bersama” Dari definisi tersebut tercakup tujuh unsur yang esensial dalam kepemimpinan, (1) pemimpin (leader),

(2) pengaruh (Influence), (3) pengikut (Follower), (4) maksud (Intention), (5) Tujuan bersama (shared purpose), (6) Perubahan (change), (7) tanggung jawab pribadi (Personal responbility).

pengaruh adalah hubungan timbal balik bukan satu arah antara pemimpin dengan pengikut dengan maksud dan harapan terjadi perubahan yang berarti sebagai hasil dari tujuan bersama. Dari pandangan Daff di atas dapat dipahami bahwa pengaruh tidak dikaitkan dengan unsur kekuasaan maupun paksaan yang dilakukan pemimpin terhadap bawahan. Pemimpin mempengaruhi bawahan dan juga bawahan dapat mempengaruhi pemimpin, malahan menurut Daff pengikut yang baik bukanlah “Yes people” kadang-kadang pemimpin yang efektif sama dengan dengan pengikut yang efektif, hanya berbeda dalam memainkan perannya. Kemudian unsur tanggung jawab pribadi dan integritas (personal responbility and integrity) menunjukkan adanya tanggung jawab antara pimpinan dan orang-orang yang ada dalam organisasi harus sama-sama mempunyai tanggung jawab penuh untuk mencapai tujuan. Sedangkan unsur perubahan (change) merupakan hasil dari pimpinan dan pengikut yang menjadi harapan masa depan dan mereka sama-sama menciptakan perubahan, bukan memelihara status quo. Atau dengan kata lain perubahan adalah gambaran dari tujuan bersama (shared purpose).
Jika dicermati ketujuh elemen kepemimpinan yang dikemukakan oleh Daff, terkandung makna penting, bahwa antara pimpinan dan pengikut tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam memberikan pengaruh dan tanggung jawab untuk mencapai perubahan. Yang berbeda adalah peran antara pemimpin dan pengikut.

Dari beberapa definisi dan konsep kepemimpinan di atas terlihat bahwa kepemimpinan pada artinya merupakan



adanya kegiatan/aktivitas mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama, apakah tujuan itu berupa perubahan organisasi dan sebagainya.

Sehubungan dengan itu, Burt Nanus (1999: 18) menemukan model khusus yang digunakan untuk memahami peran pemimpin organisasi non profit yang diwujudkan dalam kegiatan, yaitu:

1)      Dalam organisasi (Inside the organization), peran pimpinan berinteraksi dengan staf dan tenaga sukarela untuk memberikan inspirasi, mendorong, menggerakkan dan memberdayakan mereka.

2)      Ke luar organisasi (outside organization), peran pimpinan mencari bantuan, dukungan dari donatur, mitra yang berpotensi dengan para pimpinan bisnis di luar organisasi.

3)      Pada masa operasi (present operation), pimpinan memusatkan pada kualitas dan pelayanan, pada struktur organisasi, sistem informasi dan aspek lainnya.

4)      Kemungkinan masa depan (on future possiblities), pimpinan mengantisipasi trends serta mengembangkan arah masa depan organisasi. Keempat hal tersebut terdiri dari enam peran yang merupakan aktivitas pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dan oleh Burt digambarkan sebagai berikut:

Ke luar organisasi


Politisi dan
Memberi visi dan


Juru kampanye
Strategi

Masa


Kemungkinan




operasi

Masa depan


Pelatih
Agen perubahan







Dalam Organisasi

Gambar – 2.6: Peran Pemimpin Organisasi Non-profit

Sumber: Burt Nanus. Leaderrs Who Make a Diffrence for Meeting the non Profit Challenge
(1999: 18)


Halaman 24

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008

Keterangan gambar:




meliputi
memberikan
dorongan,
membujuk

1)  Peran 1 dan 2: pemimpin sebagai pemberi
melalui
pendekatan-pendekatan

dengan

visi dan strategi (visionary and strategies),
mengurangi
ancaman-ancaman
maupun

maksudnya pemimpin adalah seorang yang
penolakkan sehingga setiap individu siap untuk

bertanggung
jawab
untuk
menggerakan
berubah, (2) merubah (changging) yang meliputi

organisasi ke arah yang benar. Kemudian
pemberian  perubahan  pada  setiap  individu

pemimpin menetapkan, menyebarkan
dan
melalui pembelajaran baru pada sikap mereka,

mengembangkan  visi  dengan  jelas  serta
dalam  hal  ini  pekerja  diberi  informasi

menunjukkan cara-cara baru di masa yang
baru,model perilaku baru, dan cara baru dalam

akan datang. Di samping itu ia memberikan
melihat sesuatu sehingga pekerja belajar denga

inspirasi pada anggotanya serta mendesain
sikap baru. dan (3) memantapkan (refreezing)

strategi  untuk  mencapai  visi  dan  misi
perubahan baru untuk membuat jadi permanen.

organisasi.














2)  Peran 3 dan 4: Pemimpin sebagai politisi
Di samping itu Peter Hernon, Ronald R (2003:

dan
juru
bicara
(politician
and
131)   menyatakan   bahwa   untuk  menilai

champaigner), artinya pemimpin berperan
kepemimpinan

organisasi
perpustakaan

sebagai penasehat, juru bicara dan sebagai
akademik,  pemimpin  bertindak  sebagai  (1)

negosiator terhadap bawahannya. Ia juga
strategi  visi  dan  tujuan  untuk  organisasi

membangun
hubungan

dengan
perpustakaan,  (2)  orang  yang  memberikan

menggunakan  sumber-sumber
informasi
kontribusi pada kampus, (3) inisiatif dan kreatif,

(super networker)




(4) membangun anggotanya, menjaga moral dan

3)  Peran 5: Pemimpin sebagai pelatih (coach),
memberikan inspirasi.





maksudnya didalam diri pemimpin telah
Definisi kepemimpinan yang dikemukakan baik

tertanam  sifat  membangun  regu  dan

membina orang-orang dalam organisasi, ini
Burt,  maupun  Peter  Hernon,  pada  dasarnya

merupakan
tanggungjawabnya. Selain
itu
adalah sama, semua poin yang dikemukan Burt

pemimpin
juga  berperan
membangun
juga terdapat dalam poin yang diajukan Peter.

kepercayaan
yang
menjadi
pegangan
Pemimpin yang dapat menganalisa pemanfaatan

organisasi dan ia juga pemberi semangat
teknologi merupakan unsur yang amat penting

serta inspirasi pada setiap individu.


(urgent) dalam kepemimpinan perubahan dan

4)  Peran 6: pemimpin sebagai agen perubahan
harus
diperhitungkan,
apalagi
bagi

(change agent) dalam posisi untuk masa
kepemimpinan
perpustakaan
perguruan
tinggi

yang akan datang. Ia mempunyai pengaruh
yang  menuju  ke  perubahan  dalam  bidang

besar dalam pengambilan keputusan untuk
teknologi
informasi.
Bagaimana
mungkin

perubahan dan ia memperkenalkan program-
seorang  pemimpin  perpustakaan  tidak  dapat

praogram baru, menciptakan strategi kerja
berperan  atau  tidak  menguasai  teknologi

sama  dengan  publik.  Kadang-kadang  ia
informasi.








seorang restruktur organisasi dan seorang
Merujuk pada konsep kepemimpinan di atas,

inovator.













yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah

Sebagai  agen  perubahan,  pemimpin  adalah
aktivitas/kegiatan
atasan dalam mempengaruhi

individu  yang  bertanggung  jawab  untuk
dan menggerakkan orang lain untuk mencapai

mengubah  sistem  dan  tingkah  laku  anggota
tujuan  organisasi  dengan  aspek-aspek,  (1)

organisasi. Dalam pelaksanaan pemimpin dapat
pimpinan
yang memberikan,
mengembangkan

mengunakan model empat langkah Lewin. Kurt
dan menyebarkan visi (visioner), (2) sebagai

Lewin dan Schein mereka berpendapat bahwa
komunikator,
(3)
menjadi
agen
perubahan

perubahan  yang  sukses  dalam  organisasi
(change agent), (4) sebagai pelatih (coac) dan

hendaknya  mengikuti  empat  langkah,  (1)
(5)dapat
menganalisa
pemanfaatan
teknologi

keinginan untuk berubah (desire of change),
informasi.








sebelum perubahan terjadi setiap individu harus









merasakan  suatu  kebutuhan,  dapat  berupa
Konsep  kepemimpinan  berserta  indikator-

kekurangan-kekurangan   dan   ketidakpuasan
indikator di atas, dikumpulkan dari teori-teoti

selama  ini  serta  adanya  keinginan  untuk
yang dianggap dianggap cocok untuk membawa

meningkatkan, (2) pencairan (unfreezing), yang
organisasi pada perubahan, karena untuk suatu



Halaman 25

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008



perubahan  pemimpin  harus  seorang  yang
Di sisi lain Daft (2005: 659) menambahkan,

visioner, dan dapat berperan sebagai change
bahwa  pemimpin  dapat  mendorong  dan

agent,
dapat
mengkomunikasikan
perubahan
mendukung
kreatifitas
untuk
membantu

baik ke luar maupun ke dalam organisasi, ia
pengikut dan organisasi agar lebih menerima

harus menguasai teknologi informasi sehingga ia
serta  siap  berubah.  Pandangan  Peter  Hess,

akan  dapat  bertindak  sebagai  pelatih  dari
tentang  pengaruh

kepemimpinan
terhadap

bawahannya. Kepemimpinan
perubahan
akan
perubahan melalui tanggung jawab pemimpin

berhasil apabila ia kuat dan mampu menjalankan
dalam   menggerakkan   orang-orang,   yaitu

perannya seperti yang disebutkan di atas, di
“change is leadership respobility. The challenge

samping itu beberapa teori menyatakan bahwa
is to move people beyond their evensiveness and

kepemimpinan

melalui
pimpinannya
resistance to the point where they view change

berpengaruh
langsung
terhadap
perubahan
not as threat but as an opportunity”


organisasi  hal  ini  sangat  mendukung  untuk
3. Penutup







pimpinan tersebut melaksanakan perannya..








Pengaruh Langsung Kepemimpinan terhadap
Untuk merencanakan dan mengimplementasikan

Perubahan Organisasi




perubahan organisasi diperlukan kepemimpinan










yang kuat melalui tindakan pimpinan dalam

Pengaruh
kepemimpinan  terhadap
perubahan
mempengaruhi, mengarahkan anggota organisasi

dinyatakan Hersey (2000: 491) bahwa pemimpin
untuk mencapai perubahan. Berdasarkan teori

yang
berpengaruh,
tidak
melaksanakan
tindakan tersebut tercermin di dalam aspek-

perubahan dalam kondisi fakum, akan tetapi
aspek  kepemimpinan,  yaitu  pimpinan  yang

perubahan itu disempurnakan dengan hati-hati
dapat, (1) memberikan, mengembangkan dan

melalui penciptaan berbagai bagian. Selanjutnya
menyebarkan  visi  (visioner),  (2)  sebagai

Hersey

menjelaskan
bahwa
dengan
komunikator,
(3)

menjadi
agen
perubahan

pertimbangan dan pandangan terhadap faktor-
(change agent), (4) sebagai pelatih (coach) dan

faktor

yang

mempengaruhi
suksesnya
(5)
menganalisa

pemanfaatan
teknologi

perubahan,   dampak-dampak   positif   dapat
informasi.







diusulkan untuk terjadinya perubahan tersebut.
Sehubungan dengan itu untuk mendapatkan











Pendapat
Anne
Maria
(1998:
217),
pimpinan perpustakaan perguruan tinggi yang

Organizational change is an important topic for
tepat
dalam
mewujudkan
suksesnya

manager, because a substantial part of their jobs
perubahan organisasi, strategi yang terbaik

requires the information and implementation of
adalah: Melalui rekrutmen terhadap orang-

planned  organizational  change”  pendapat
orang  baru  yang  memenuhi  persyaratan

tersebut

menunjukkan
bahwa
perubahan
berdasarkan pada aspek-aspek kepemimpinan

organisasi yang direncanakan menjadi bagian
yang
diinginkan.
Untuk
mendapatkan

dari tugas seorang pimpinan. Menurut Gibson
pimpinan yang visioner, langkah yang diambil

(2006: 502) Apabila pada suatu kasus pimpinan
adalah, secara berkala pimpinan universitas

melaksanakan

perubahan,
dia

harus
mengharuskan

pimpinan
perpustakaan

mengantisipasi
penolakan terhadap
perubahan
membuat  rencana  strategis  minimal  untuk

dan mempersiapkan serta mengatasinya.

lima tahun ke depan. Kemudian hasil kerja










mereka   dinilai   menurut   kriteria   yang

Tentang
adanya
pengaruh
langsung
ditetapkan oleh tim khusus. Kesempatan ini

kepemimpinan
terhadap
perubahan
organisasi
hendaknya diberikan juga kepada pimpinan

diperkuat oleh Yulkl (2002: 300-301) bahwa
devisi, dengan konsekuensi bagi mereka yang

seorang pemimpin dapat berbuat banyak untuk
yang memenuhi kriteria atau mempunyai visi

memfasilitasi  kesuksesan  pelaksanaan  per-
yang  dapat  membabawa  organisasi  pada

ubahan,  melalui  tindakan  politik  termasuk
perubahan  dipromosikan
menjadi
pimpinan

menciptakan koalisi, membentuk tim, memilih
perpustakaan.







orang yang tepat untuk diletakkan pada posisi
Pemimpin sebagai pelatih termasuk salah satu

kunci,  membuat  simbol  perubahan,  dan

memonitor  serta  mendeteksi  persoalan  yang
aspek   dari   kepemimpinan   yang   perlu

harus diperhatikan.





ditingkatkan. Apalagi perubahan utama dalam



Halaman 26

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4, No.1, Juni 2008



organisasi perpustakaan adalah perubahan pada teknologi informasi (otomasi perpustakaan). Dalam hal ini, dibutuhkan seorang pimpinan yang dapat menganalisa teknologi informasi, membimbing dan mengarahkan bawahannya untuk tidak canggung menerapkan teknologi informasi.

Untuk ini latar belakang pendidikan mereka sebaiknya S2 ilmu perpustakaan atau minimal sarjana perpustakaan. Suatu langkah yang dapat dilakukan adalah, dengan merekrut lulusan program studi ilmu perpustakaan yang diselenggarakan di dalam negeri seperti di USU, UI, UNPAD dan UNHAS, maupun lulusan luar negeri. Bagi pimpinan lama yang belum mendapat pendidikan ilmu perpustakaan diperlukan perhatian dari pimpinan universitas untuk memberikan fasilitas dalam melanjutkan pendidikan maupun pelatihan pada bidang ilmu perpustakaan.

Untuk pemimpin bertindak yang bertindak sebagai agen perubahan, dibutuhkan seorang pimpinan perpustakaan yang dapat mengkomunikasikan keuntungan serta pentingnya suatu perubahan baik ke dalam maupun ke luar organisasi Hal ini dapat dilakukan melalui tulisan di majalah kampus, poster, dan ceramah.







Kesimpulan
Bahwa perubahan organisasi itu merupakan suatu tindakan yang dilakukan terhadap unsur-unsur dalam suatu organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi menuju ke arah yang lebih baik.
Pada dewasa akhir ini, kepemimpinan lebih populer dengan kepemimpinan perubahan. richard L. Daff mengemukakan konsep kepemimpinan dalam satu definisi saja yaitu "kepemimpinan adalah merupakan suatu hubungan antara pimpinan dan pengikut (followers). Dari definisi tersebut tercakup tujuh unsur yang esensial dalam kepemimpinan
 (1) pemimpin (leader)
 (2) pengaruh (Influence)
 (3) pengikut (Follower)
(4) maksud (Intention)
(5) Tujuan bersama (shared purpose)
(6) Perubahan (change)
(7) tanggung jawab pribadi (Personal responbility).

Untuk merencanakan dan mengimplementasikan perubahan organisasi diperlukan kepemimpinan yang kuat melalui tindakan pimpinan dalam mempengaruhi, mengarahkan anggota organisasi untuk mencapai perubahan. Berdasarkan teori tindakan tersebut tercermin di dalam aspek - aspek  kepemimpinan,  yaitu  pimpinan  yang
Dapat
 (1) memberikan, mengembangkan dan
      menyebarkan  visi  (visioner)
 (2)  sebagai komunikator 
 (3) menjadi     agen     perubahan (change agent)
 (4) sebagai pelatih (coach) dan
(5) menganalisa pemanfaatan  teknologi informasi.                                                               
Untuk pemimpin bertindak yang bertindak sebagai agen perubahan, dibutuhkan seorang pimpinan yang dapat mengkomunikasikan keuntungan serta pentingnya suatu perubahan baik ke dalam maupun ke luar organisasi Hal ini dapat dilakukan melalui tulisan di majalah kampus, poster, dan ceramah.







              


Daftar Pustaka

Beer, Michael. Breaking the Code of Change, USA: President and Fellow of Harvard College, 2002.
Bryson, JO. Effective Library and Information Centre Management, England: Gower, 1990.

Bishop, Charles H Jr. Making Change Happen one person at a time: assessing change within your organization, New York: AMACOM, 2001.

Caroselli, Marcelene, Leadership Skill for Managers, New York: McGraw-Hill, 2000.

Daff, Richard L, The Leadership Experience. Canada: Thomson, 2005.
Daff, Richard, Management, Chicago: The Dryden Press, 1988.

Gibson, James L at all., Organizations: behavior, structure, Prossesses, Boston: McGraw-Hill, 2006.
Hernon, Peter; Ronald R. Powell and Arthur P. Young. The Library leadership: attributes of academic and Public Director, London:: Libraries Unlimited, 2003.

Hersey, Paul; Kenneth h.Blanchard; Dewey E.Johnson. Management of Organizational Behavior: utility human resources, New Yersey: Prentice Hall, 1996.

Nanus, Burt and Stephen M. Dobbs. Leaders Make Different Strategies for Meeting the Non Profit Challenge, San Francisco: Jossey bass, 1999.

Spillane, James p. Distributed leadership, San Francisco: Jossey Bass, 2006.
Stuart, Robert D. and Barbara B. Morgan.
Library and information centre management, USA: Library Unlimited, 2002.
Yulk,  Gay  A.  alih  bahasa  Jusuf  Udaya.

Kepemimpinan dalam Organisasi, Jakarta: Prenhallindo, 1998.










Halaman 27


























































14